Membangun Martabat Kaum Buruh Indonesia PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Thursday, 01 May 2008 07:00

 


 

Syahganda Nainggolan, Ketua Umum Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia 98, disampaikan di Lapangan Banteng Jakarta, pada 1 Mei 2008

Saudara-saudara seperjoangan,

Hari ini kita berkumpul di sini, di lapangan Banteng, tugu perjuangan pembebasan Irian Barat, merayakan hari buruh internasional. Kita berharap bahwa berkumpulnya kita di sini di ridhoi oleh Allah SWT, karena Dia lah kita masih diberi kebebasan dan kekuatan untuk bersama-sama memikirkan masa depan kita bersama.

Sejak Tjokroaminoto menegakkan perjuangan kaum buruh lebih seratus tahun yang lalu melawan penjajahan Belanda, sejarah mencatat bahwa peranan kita sebagai kaumburuh telah mendapatkan pengakuan sejarah yang baik sebagai pejuang dalam membebaskan republik ini dari penindasan. Sejak perjuangan cokroaminoto dan kawan-kawan tersebut sampai saat ini kaum buruh merupakan elemen penting dalam upaya menegakkan keadilan di Indonesia.

Mengapa Buruh Harus Berjuang?

Perjuangan kaum buruh dalam sejarah bangsa kita terjadi karena keinginan kaum buruh mendapatkan hak-haknya untuk hidup lebih layak dari apa yang diberikan majikan (pemilik modal) kepadanya. Sepanjang sejarahnya kaum buruh mendapatkan dirinya dalam keadaan kurang menguntungkan, karena buruh selalu ditempatkan sebagai bagian produksi (alat produksi) yang menghasilkan sesuatu produk (barang), yang produk tersebut dijual pengusaha (pemilik modal) ke pasar, di mana keuntungan yang diperoleh pengusaha secara terus menerus semakin membesar, sementara buruh hanya tetap mendapatkan pembayaran yang tetap untuk setiap produksi barang tersebut. Olehkarenanya, hari demi hari, masa demi masa, kaum buruh terus hidup bertahan sampai ke anak cucunya, sementara pengusaha akan terus semakin besar dan jaya sampai ke anak cucunya.

Di dalam dunia modern ini, memang terdapat sebagian situasi buruh hidup lebih baik yang ditandai dengan membaiknya tingkat upah, membaiknya tempat kerja, dipenuhinya hak-hak normative pekerja dan adanya sistem karir yang jelas. Buruh ini kemudian berkembang menjadi golongan professional, manajer, dll, yang tentunya mereka kemudian kebanyakan memisahkan diri dari kaum buruh. Namun, sebagian besar kaum buruh tetap hidup dalam situasi yang menyedihkan, yang ditandai dengan upah murah, kerja lembur, jaminan social yang minimum, kebebasan berserikat yang dibatasi, dll. Setiap kali penentuan upah minimum ditingkat kabupaten/kota dan propinsi, kita selalu mendapatkan nilai upah yang jauh di bawah upah layak yang pantas kita dapatkan.

Berapakah upah layak kita? Belum ada suatu acuan yang jelas tentang upah layak, baik dari pemerintah maupun dari serikat-serikat buruh (karena serikat buruh mempunyai perwakilannya di dewan pengupahan) untuk pantas kita jadikan acuan. Hampir semua upah minimum yang disyahkan oleh pemerintah kabupaten/kota dan propinsi dinyatakan mendekati upah layak. Di Jakarta (2008) upah minimum sebesar Rp. 972.604, di Bandung Rp. 939.000, Semarang Rp. 715.700, Surabaya Rp. 805.500, Sumatera utara Rp 822.205, Kaltim Rp. 815.205 dll misalnya dianggap mendekati upah layak karena rata-rata sudah 90% nya kebutuhan hidup layak (KHL). Tentu hal ini jauh dari layak yang kita bayangkan. Hidup layak seharusnya bukan sekedar cukup sandang, pangan dan papan dalam pengertian minimum, yakni setiap orang sekedar hidup bertahan dengan konsumsi kalori minimum, membayar uang kost (kontrak) dan membeli pakaian ala kadarnya. Apalagi jika uang gaji tersebut malah minus setiap bulannya?. Upah layak seharusnya menjadikan setiap buruh dapat membelanjakan uangnya pada makanan yang bergizi, mempersiapkan biaya angsuran rumah, membayar tagihan listrik dan telepon, dan jika sudah berkeluarga, mengalokasikan untuk masa depan anak.

Kita tidak perlu membandingkan dengan negara-negara sangat maju seperti Amerika (dan Eropa yang gaji minimum buruh mereka rata-rata(di atas Rp. 15.000.000/bulan), namun dengan Bangkok (Thailand) saja kita sudah jauh tertinggal, di mana mereka mencapai $5,7 per hari (hampir 1,5 juta sebulan) atau di Malaysia rata-rata juga di atas 1,5 juta paling rendah. Di negara-negara tersebut bukan hanya penghasilan mereka saja yang baik, namun jaminan sosial, baik kesehatan dan pendidikan juga dilaksanakan dengan baik. Disamping juga hak mereka untuk menikmati liburan yang menyenangkan.

Mengapa Kita Tidak Hidup Layak?

Hidup layak sebagaimana yang kita inginkan tentunya merupakan idaman pejuang-pejuang kita terdahulu. UUD45 kita mencantumkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk hidup layak. Namun, sampai saat ini setelah kita 63 tahun merdeka, hal tersebut terasa masih sangat jauh. Namun, sebagain kita tentu sudah hidup jauh di atas layak. Baru-baru ini konsultan keuangan dunia Merril Lynch & Capgemini menyampaikan hasil temuannya bahwa pertumbuhan jumlah orang kaya berpenghasilan 1 jt dollar (9 Milyar) naik 16,2% sepanjang tahun lalu, selain itu dilaporkan pula nilai asset (kekayaan) orang Indonesia di Singapore saat ini mencapai $87Milyar atau Rp. 506,8 Trilyun. Artinya, sebenarnya sepanjang kemerdekaan kita, bangsa ini mampu menciptakan orang untuk hidup dengan layak, bahkan sangat kaya. Namun segelintir orang saja.

Jika kita memikirkan bahwa keinginan untuk memperoleh hidup layak tentunya bukanlah alasan yang berlebihan buat bangsa yang kaya seperti bangsa kita. Berbagai kekayaan alam melimpah ruah baik di atas bumi maupun di dalam bumi, baik di laut maupun di udara yang diberikan Allah kepada kita. Hal ini tidak terjadi seperti bangsa Cina dan India yang miskin sumberdaya alam dibandingkan kita. Saat ini kedua bangsa tersebut sudah jauh meninggalkan kita.

Mengapa Bangsa Cina bisa maju? Bangsa ini maju karena mereka bekerja keras membangun produksinya, mereka bekerja keras membangun industrinya, bekerja keras untuk mengelola perusahaan-perusahaan dengan efisien dan sekaligus bekerja keras memberantas korupsi disegala lini dan tingkatan. Namun, yang lebih besar lagi, bangsa ini mengarahkan kemakmuran bangsanya untuk sebanyak-banyaknya rakyat, bukan segelintir orang atau pejabat negaranya.

Suatu bangsa yang maju adalah bangsa yang menyiapkan diri untuk membangun produksi nasionalnya. Meskipun Cina awalnya jauh tertinggal teknologinya dibanding Jepang, Korea dan negara-negara maju, namun mereka terus mengejarnya dengan menjiplak teknologi tersebut, lalu membuat barang-barang tiruan yang murah, yang kemudian dapat dijangkau (dibeli) rakyatnya. Karena mereka tidak lelah mengejar ketertinggalan teknologi, akhirnya Bangsa Cina mampu menghasilkan produksi yang melebihi tingkat konsumsinya (surplus), sehingga mereka dapat mengekspor barang-barang tersebut keseluruh penjuru dunia (termasuk Indonesia). Di asia tenggara sendiri kita juga melihat bahwa Bangsa Malaysia juga membangun industri nasionalnya. Mereka akhirnya menjadi negara menengah, yang bias memberikan makan buat jutaan orang Indonesia sebagai buruh migrant (TKI). Begitu pula Thailand yang mampu menghasilkan produk-produk unggul dibidang pertanian (agricultur), yang hampir semuanya telah kita impor kemari, seperti durian, apel, jambu dll.

Bangsa Malaysia dan Thailand pun memberantas korupsi dengan sungguh-sungguh, sehingga ekonomi mereka tumbuh dengan efisien. Perusahaan-perusahaan yang berkembang tanpa pungutan liar pada akhirnya akan membuat untung lebih besar, sehingga lebih mensejahterakan buruhnya.

Tentu saja para pejuang-pejuang kita terdahulu bahwa negara ini adalah negara besar dan kaya. Mereka sadar bahwa negara ini bahkan telah membuat Bangsa Belanda menjadi salah satu bangsa terkaya di dunia, akibat kita diperas selama 300tahun. Sayangnya, setelah kemerdekaan sampai saat ini, kita belum berhasil membangun bangsa ini seperti bangsa-bangsa yang sudah disebut di atas. Kita membangun dengan berbagai kesalahan fatal, yang terjadi berkali-kali di masa lalu khususnya. Di masa Soekarno, kita berusaha hidup mandiri dengan semangat gotong royong. Kemandirian ekonomi dikembangkan dengan membangun desa secara besar-besaran. Sosialisme pun dicanangkan untuk mendapatkan kemakmuran bersama. Namun, kehidupan berpolitik yang terlalu bebas pada akhirnya membuat kita sibuk berkelahi antara kelompok-kelompok (partai) yang ada, yang membuat politik akhirnya menjadi jalan (batu) lompatan untuk orang hidup lebih baik. Lama kelamaan ekonomi semakin tidak terurus sampai Soekarno meninggalkan tahtanya. DI masa Soeharto kita membangun ekonomi awalnya dengan kerja keras. Selain membangun pedesaan dan pertanian, juga bertahap kita membangun industri dan teknologi. Sayangnya, Soeharto memberikan konsesi yang begitu besar terhadap kepentingan asing untuk mengelola asset-asset kita, khususnya sumberdaya alam. Bahkan, di masa Soeharto ini, segelintir orang telah menikmati akumulasi kekayaan yang luar biasa akibat berbagai kemudahan yang melibatkan birokrasi elit, Soeharto, dan perusahaan asing dengan mengorbankan rencana strategis penggunaan kekayaan kita untuk kepentingan rakyat. Pada akhirnya, pengendali kekuasaan Soeharto tidak lagi berpikir untuk rakyat, namun berpikir cara tercepat menjadi kaya, sehingga industrialisasi yang awalnya direncanakan tidak berhasil seperti di Cina, Malaysia dan India tadi.

Saat ini kita memasuki 10 tahun reformasi. Bahkan pemerintah dan banyak pihak menyatakan 100 tahun kebangkitan Indonesia. Apakah kita masih punya harapan untuk menjadi negara yang bangkit? Apakah kaum buruh akan dapat menikmati hidup yang layak? Apakah anak-anak kita nanti dapat bersekolah dengan baik? Apakah anak-anak kita nantinya dapat bekerja dengan berpenghidupan yang layak?

Untuk menjawab semua ini kita perlu meyakini persoalan utama bangsa ini. Apakah persoalan tersebut? Pertama, bangsa ini mempunyai pemimpin-pemimpin yang rindunya pada kekuasaan dan harta lebih besar daripada kecintaan kepada rakyat, Kedua, para elit negeri ini mempunyai penyakit Hasad (dengki), Ketiga, pembangunan kita telah salah arah, Keempat, ketergantungan keuangan dan teknologi kita pada asing dan kelima rakyat kita kurang disiplin dan kerja keras. Penyakit yang pertama terlihat ketika demokrasi melanda negeri ini semua elit baik di pusat maupun di tingkat daerah berlomba-lomba mengejar kekuasaan. Kekuasaan bukan diletakkan sebagai ibadah yang menjadi tanggungjawab kekalifahan para pemimpin dihadapan Allah, namun kekuasaan dijadikan ajang glomour, dan bahkan korupsi. Fakta ini ditunjukkan banyaknya elit-elit yang mulai tersandung skandal korupsi dan kepuasaan duniawi belaka lainnya. Kedua, penyakit Hasad (dengki) diperlihatkan dengan saling ejek antara para pemimpin atas nama demokrasi. Saling ejek (negative campaign) merupakan cara-cara yang jadi kebiasaan dalam menjatuhkan lawan. Padahal agama menganjurkan setiap pemimpin tersebut berlomba-lomba untuk kebaikan. Dengan penyakit hasad ini seringkali permusuhan terjadi diantara elite, sehingga susah menciptakan senergi diantara mereka. Beberapa internal partai politik, antar partai dan bahkan antar individu salng menjatuhkan secara terbuka semata-mata kemungkinan besar atas dasar hasrat pribadi saja. Ketiga, pembangunan yang salah arah seperti yang sudah saya bandingkan dengan Cina, India dan Malaysia, bagaimana mereka membangun, keempat, kita terlalu tunduk pada kepentingan asing yang memaksakan kita untuk menjadi subsisten (tergantung) melalui control keuangan dan teknologi mereka. Kelima, kita harus sadari bahwa setelah puluhan tahun rakyat kita menjadi “alat” produksi, membuat kita kekurangan kretivitas dalam berikhtiar dan bekerja lebih keras. Tentu saja hal ini dari kelima factor tersebut bukan yang utama.

 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.